no SMOKING please...

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa merokok selain menyebabkan kecanduan juga menyebabkan banyak gangguan kesehatan, seperti kanker, impotensi, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, ginjal, efek buruk bagi kehamilan dan janin, dan masih banyak lagi.
Bila melihat sejarahnya, merokok untuk pertama kalinya dilakukan oleh suku bangsa Indian di Amerika. Merokok oleh bangsa Indian dilakukan untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Selanjutnya pada abad ke 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kebiasaan merokok kemudian mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tetapi, berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan. Sampai akhirnya pada abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

Racun pada Rokok
Dalam sebatang rokok terkandung sekitar 4000 macam zat kimia. Zat kimia yang dikeluarkan ini terdiri dari komponen gas (85 persen) dan partikel. Nikotin, gas karbonmonoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, akrolein, asetilen, benzaldehid, urethan, benzen, methanol, kumarin, 4-etilkatekol, ortokresol dan perylene adalah sebagian dari beribu-ribu zat di dalam rokok.
Dari sekitar 4000 macam zat kimia yang ada dalam rokok , setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan manusia. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida.
  • Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru.
  • Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan.
  • Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.
Efek Racun
Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok):
  • 14x menderita kanker paru-paru, mulut, dan tenggorokan
  • 4x menderita kanker esophagus
  • 2x kanker kandung kemih
  • 2x serangan jantung
Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru.
Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi.

Kenapa kita harus berhenti merokok ? Karena …..
Merokok jelas-jelas menyebabkan banyak gangguan kesehatan, tidak hanya bagi perokok itu sendiri tapi juga orang-orang disekitarnya, seperti yang sudah banyak dibuktikan oleh para peneliti. Banyak fakta juga menunjukan bahwa merokok membebani ekonomi keluarga untuk tujuan yang tidak produktif.

Jadi … kalau anda sayang pada diri anda sendiri, sayang pada keluarga, peduli dengan orang-orang sekitar anda, dan juga lingkungan anda
Berhentilah Merokok !
Jauh lebih baik anda membelanjakan uang anda untuk hal-hal yang membuat anda lebih sehatbaik jasmani maupun rohani.

sumber : http://artikel-info-kesehatan.blogspot.com/2009/08/bahaya-merokok-jauhi-merokok.html

know me more


ini adalah postingan tentang autobiografi yang lebih lengkap. silahkan dibaca..



HARI KELAHIRANKU

Hari itu, kamis, 19 September 1996, merupakan hari paling bersejarah di hidupku dan keluargaku. Pada pukul 14.00, di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, adalah saat dimana aku dilahirkan ke dunia ini oleh ibuku. Saat itu adalah saat dimana nyawanya dipertaruhkan untuk melahirkan aku yang merupakan anak pertama dalam keluarga kecilku.

Adalah Dokter Basuki, yang membantu ibuku selama proses melahirkan. Pada saat itu, merupakan saat-saat terindah bagi kedua orangtuaku yang bersyukur karena mendapat anak perempuan yang lahir dengan selamat dan alhamdulillah, tanpa cacat, yaitu aku, Azzren Virgita Pasya.

Setelah beberapa hari dari hari kelahiranku, aku dan orangtuaku tinggal di rumah nenekku yang pada waktu itu berada di jalan Bakti no. 29, Kebon Bawang, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Karena orangtuaku belum memiliki pengalaman dalam mengurus anak, maka aku diasuh dengan bantuan kakak ibuku yang biasa kupanggil ‘bude’ yang juga adalah seorang bidan.

Setelah merasa siap dengan segala hal, orangtuaku dan aku yang pada waktu itu berumur sekitar satu setengah tahun, pindah ke Pare-Pare, rumah pertama kami. Kami memilih tempat itu karena papa memang ditugaskan untuk berdinas disana. Jadi kami pun ikut pindah kesana. Nah, disanalah kehidupan kamu yang baru dimulai.


AKU DAN KELUARGAKU

Aku memanggil kedua orangtuaku dengan sebutan “mama” dan “papa”, hingga sekarang. Mereka adalah dua sosok yang paling berjasa dalam kehidupanku. Mereka adalah pahlawan yang sangat kukagumi. Yah, walaupun terkadang aku suka melawan dan bertindak kurang baik, aku tetap menyayangi mereka, sampai akhir hidupku. Mereka juga sering memarahiku ketika aku mulai tumbuh dewasa dan merasa bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan mereka serta menyepelekan hal-hal besar yang kuanggap kecil dan tidak penting. Namun, mereka bilang kalau itu adalah salah satu bentuk kasih sayang mereka kepadaku, dan itu memang benar.

Namaku, Azzren Virgita Pasya adalah pemberian kedua orangtuaku. Nama Azzren diberi oleh papa. Banyak yang menanyakan arti dari nama itu, namun sampai sekarang aku juga tidak tahu. Waktu aku menanyakan artinya kepada papa, ia menjawab dengan nada bercanda kalau ‘azzren’ adalah singkatan dari ”anak zaman keren”. Entah itu memang arti sebenarnya atau itu hanya bercanda atau memang sebenarnya azzren tidak memiliki arti yang spesifik. Entahlah, papa memang suka bercanda dan jarang berbicara serius, tapi sifat itulah yang aku sukai darinya. Virgita adalah nama pemberian mama. Katanya, aku diberi nama itu karena aku dilahirkan dibawah naungan rasi bintang ‘virgo’, dan juga menunjukkan kalau aku adalah perempuan. Pasya adalah nama yang diambil dari nama belakang ayahku.

Jadi, menurut versiku, arti dari namaku adalah:
“seorang anak perempuan yang hidup pada zaman keren dan bisa membanggakan orangtuanya terutama ayahnya”.
Yah, itu menurutku. Aku tidak tahu arti yang sebenarnya.
  
Aku adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku memiliki satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Adik laki-laki ku bernama Azzwan Tanri Pasya. Ia lahir pada tanggal 17 Juni 1999. Ia adalah anak kelas 6 SD pada waktu aku menulis AUTOBIOGRAFI ini. Ia adalah anak yang lucu walaupun sedikit kasar. Sedang adik perempuanku bernama Azzura Kayla Pasya. Ia lahir pada tanggal 14 April 2005. Kini ia bersekolah di sebuah tk di dekat rumah. Ia adalah anak yang lincah, lucu, imut, menggemaskan. Dia juga merupakan salah satu anak yang paling pintar di sekolahnya. Mungkin turunan dari kakaknya, hehe.

Di rumah, aku biasa dipanggil dengan sebutan ‘uwo’. Kata papa, uwo dalam bahasa lampung artinya anak pertama perempuan atau kakak perempuan yang pertama. Adikku yang laki-laki sering kupanggil azzwan atau udo, yang merupakan bahasa lampung juga dengan arti anak laki-laki pertama atau kakak laki-laki. Adikku yang paling kecil sering dipanggil zura atau adek. Dia adalah anak yang paling lucu karena masih kecil.

Azzwan lahir pada waktu kami tinggal di Pare-Pare. Tepatnya pada waktu aku berumur hampir tiga tahun. Ia adalah anak yang sangat imut waktu kecil, berbeda dengan sekarang saat dia sudah besar dan mulai ‘ngelunjak’. Haha bercanda. Dia tetap adik kecil yang selalu kusayang.


Beberapa bulan setelah azzwan lahir, kami pindah ke Cikarang. Sebuah kota kecil yang berada diantara Karawang dan Bekasi. Disana, kami tinggal di perumahan dengan nama ‘jerapah’, alamatnya lengkapnya adalah Jalan Jerapah 3 blok H2 no. 70, Cikarang Baru. Aku dan azzwan menikmati masa kecil kami di sana. Setelah 6 tahun tiggal di jerapah, kami pindah ke perumahan Gardenia, alamat lengkapnya adalah jalan Gardenia 2 blok C no. 49, Cikarang Baru . Perumahan itu merupakan perumahan baru yang masih terletak di Cikarang. Kami pindah karena mencari tempat yang lebih luas, karena kami sudah terlalu banyak barang. Waktu itu, mama sedang hamil besar, mengandung azzura.

Pada waktu itu pula papa telah berganti pekerjaan. Awalnya papa adalah seorang pelaut, lalu berganti menjadi seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan asing bernama ‘wartsila’. Setelah 3 bulan tinggal di gardenia, azzura lahir. Sebenarnya, aku adalah satu-satunya anggota keluarga yang tidak ingin memiliki adik lagi, kalaupun harus ada adik lagi aku mau punya adik perempuan, karena aku takut apabila punya adik laki-laki yang nakal seperti azzwan. Dan memang yang lahir adalah adik perempuan, aku tetap bersyukur walaupun aku tidak terlalu bahagia. Namun sekarang, aku sangat bahagia karena memiliki adik perempuan yang sangat lucu.

Pada tanggal 25 Juni 2006, aku dan keluargaku pindah ke Lampung. Kami pindah karena  papa pindah kerja ke sebuah perusahaan swasta yang ada di Bandar Lampung. Pada waktu itu, aku merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan teman-temanku yang berada di Cikarang. Aku juga merasa tidak senang karena banyak temanku yang bilang kalau Lampung adalah tempat yang sepi, tidak seperti Cikarang yang dekat dengan Jakarta. Sebelum pindah, kami memang sudah pernah ke Lampung karena banyak keluarga papa yang tinggal di Lampung. Pada waktu pertama kali pergi ke Lampung, menurutku adalah pengalaman yang seru. Namun, untuk tinggal disana, menurutku bukanlah ide yang bagus.

Tapi apa mau dikata, kami sudah pindah ke Lampung dan kami tetap bersyukur atas itu.  Pada waktu pindah, suasana haru dan tangis meliputi seluruh anggota keluarga dan seluruh teman-temanku. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu.


AKU DAN MASA KANAK-KANAK KU
  
Terkadang mama suka bercerita tentang masa kanak-kanakku. Dalam ceritanya, ia sering menyebutkan kalau aku sangat disayang karena aku adalah anak pertama dan satu-satunya waktu itu. Jadi bisa dibilang kalau aku adalah anak kesayangan pada waktu itu. Dan aku harap sampai sekarang juga masih menjadi anak kesayangan.

Pada waktu itu, papa adalah seorang pelaut, jadi papa jarang ada di rumah. Ia pulang beberapa bulan sekali. Makanya, sampai sekarang aku lebih mengenal dan menyayangi mama daripada papa. Namun, karena pekerjaan papa yang bisa dibilang berpenghasilan lumayan besar itu, kami bisa hidup berkecukupan dan bisa dibilang sejahtera.

Pada waktu aku berumur tiga tahun, yaitu waktu masih tinggal di Pare-Pare, aku sudah meminta untuk pergi kesekolah. Oleh karena itu, orangtuaku menyekolahkanku di ‘playgroup’ yang tidak jauh dari rumah. Disana aku belajar mengenal sekolah dan bermain bersama anak-anak lain yang juga bersekolah disana.

Tidak lama setelah itu, aku yang sudah pindah ke Cikarang, bersekolah di taman kanak-kanak atau TK yang juga tidak jauh dari rumah. Nama dari TK itu adalah TKIT Al-Kautsar.
 

AKU DAN MASA SEKOLAH DASAR KU

Setelah dua tahun menamatkan taman kanak-kanak, orangtuaku menyekolahkanku di sekolah dasar yang tidak lumayan jauh dari rumah. Nama dari sekolah dasar tersebut adalah SDIT Al-Azhar 12. Sekolah dasar tersebut adalah salah satu sekolah dasar favorit dan juga terbaik di Cikarang. Oleh karena itu, untuk bisa memasuki sekolah tersebut, aku yang pada waktu itu berumur hampir enam tahun harus menjalani beberapa tes sederhana. Dan aku berhasil.

Sekolah tersebut bisa dibilang memiliki lingkungan yang kondusif. Tempatnya lumayan luas dan jauh dari keramaian. Didekatnya ada sebuah universitas yaitu Universitas Presiden. Mama sering mengantarku sekolah dengan motor. Karena tidak terlalu jauh, untuk sampai ke sekolah tersebut, hanya dibutuhkan waktu sekitar tujuh menit dari rumahku atau hanya berjarak kurang lebih tiga kilometer.

Karena sekolah tersebut merupakan sekolah islam swasta, sejak kelas satu aku sudah pulang jam tiga sore karena melaksanakan shalat dzuhur berjamaah. Tetapi, waktu sekolah hanya dari hari senin sampai jum’at. Hari sabtu digunakan untuk hari ekstrakulikuler atau hari ekskul. Jadi, semua ekskul melaksanakan masing-masing kegiatannya secara bersamaan pada hari sabtu. Aku hanya mengikuti satu ekskul yaitu basket. Awalnya aku tidak mengikuti ekskul apapun, namun guru olahragaku tertarik dengan bakatku dan menyuruhku untuk mengikuti ekskul basket. Kurasa bakatku itu adalah bakat alami yang diturunkan oleh ayahku yang pada masa mudanya adalah seorang atlit sepakbola.

Tempat yang paling sering menjadi ‘tongkrongan’-ku pada waktu jam sekolah adalah perpustakaan. Di sana disebut dengan PSB atau Pusat Sarana Belajar. Walaupun perpustakaan, tempat itu sangat seru untuk dijadikan tempat berkumpul, karena kami bisa membaca dengan bebas sambil tidur-tiduran maupun duduk di karpet.  Di dalamnya tidak hanya ada buku, namun ada juga mainan, film, dan berbagai alat pembelajaran lainnya. Tempat tersebut tidak hanya dijadikan tempat membaca, namun juga dijadikan tempat menonton film dan juga bermain. Film yang paling sering kami tonton adalah film karya “Harun Yahya”.

Pada waktu bersekolah di SD Al-Azhar 12, aku memiliki dua orang sahabat. Yang pertama adalah Anggun Dwi Aprilia, yang sering kupanggil Anggun. Aku lupa kenapa aku bisa menjadi begitu dekat dengannya. Yang jelas kami saling menyayangi dan melengkapi satu sama lain. Yang kedua adalah Mayang yang bernama lengkap Virgi Mayang Maharani. Aku mengenalnya dari ekskul basket. Sejak saat itu aku menjadi akrab dan menjadi sangat dekat. Sebenarnya Anggun dan Mayang tidak terlalu mengenal satu sama lain. Namun, aku mengenal mereka berdua dan menganggap mereka sahabat atau teman terbaikku. Kedua nama itu tidak akan pernah kulupakan walaupun kami sudah tidak pernah bertemu lagi. Mereka akan tetap menjadi sahabatku.

Pada waktu kelas lima, aku dan keluargaku pindah ke Lampung dan aku bersekolah di SDIT Al-Kautsar. Aku memilih sekolah tersebut karena orangtuaku mendapat informasi bahwa sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah dasar terbaik di Lampung. Memang lokasinya lumayan jauh dari rumahku, yang beralamat di jalan Griya Indah blok 2C no. 18, Way Halim Permai, tapi itu tidak menjadi penghalang bagiku untuk terus belajar. Aku masih ingat, pada waktu baru pindah ke Lampung, aku dan Anggun saling mengirim surat (maklum, zaman dulu hp belum terlalu popular). Sampai sekarang surat-suratnya masih kusimpan baik-baik dan terkadang kubaca ulang.

Pada hari pertama aku belajar di SD Al-Kautsar, aku memakai seragam dari SD Al-Azhar. Namun, ternyata di Al-Kautsar seragamnya harus memakai jilbab. Sedangkan pada waktu aku bersekolah di Al-Azhar, aku tidak memakai jilbab. Jadi pada waktu itu aku salah kostum, namun dimaklumi karena aku memang murid pindahan bersama empat murid pindahan lainnya yang salah satunya juga salah memakai seragam seperti aku.

Tempat favorit-ku di sini adalah kantin. Mengapa? Karena selain banyak yang menjual makanan, tempat ini sangat luas sehingga aku dan teman-teman sering mengobrol disana. Katanya kantin Al-Kautsar adalah kantin terbaik se-Bandar Lampung. Aku dan teman-teman sering membeli nasi goreng disana, karena hanya dengan seribu lima ratus rupiah kami bisa mengambil nasi sebanyak-banyaknya dan sepuas-puasnya. Keren kan?

Al-Kautsar merupakan sekolah yang sangat luas. Karena didalamnya ada TK, SD, SMP, hingga SMA Al-Kautsar yang ada di dalam satu kompleks. Inilah salah satu alasan mengapa aku jarang berkeliling sekolah karena memang akan sangat melelahkan. Apalagi kantin favorit-ku itu. Untuk sampai kesana, dibutuhkan waktu kurang lebih sekitar delapan menit karena aku harus melewati bagian SMP dan SMA yang masing-masing lebarnya kurang lebih lima puluh meter. Alangkah jauhnya.

Lokasi dari SD ku yang satu ini menurutku lumayan strategis. Karena jauh dari keramaian walaupun memang jauh dari pusat kota. Namun, jalan di depan sekolah adalah jalan soekarno-hatta atau biasa disebut ‘by pass’, sehingga jalanan lebih didominasi oleh kendaraan besar seperti truk. Banyak kecelakaan yang dialami oleh anak AKA atau singkatan dari Al-Kautsar. Salah satunya adalah seorang kakak kelasku yang waktu itu ingin menyebrang jalan namun naas, dia terlindas truk. Inalillahi wa inailaihi roji’un……..

Karena hanya bersekolah dua tahun di sana, yaitu dari kelas lima sampai kelas enam, aku rasa aku tidak memiliki sahabat. Namun aku memiliki dua teman dekat pada waktu berada di kelas enam, yaitu Niken Anggraini dan Tri Yuliza yang biasa kupanggil Niken dan Tri. Anggun, Mayang, Niken, dan Tri, sering memanggilku dengan sebutan ‘jejen’. Sampai sekarang pun banyak teman-temanku yang memanggilku dengan nama itu. Aku lupa siapa yang menciptakan sebutan itu untukku, yang jelas aku menyukai nama itu untuk dijadikan nama panggilan akrabku.

Bisa dibilang kalau pada masa sekolah dasar aku adalah anak yang kuper atau kurang pergaulan. Kemungkinan besar itu terjadi karena masa adaptasiku yang bisa dibilang lumayan lama karena memang sifatku yang pemalu. Atau mungkin juga karena sebelumnya aku tinggal di kompleks perumahan yang kekurangan rasa kekeluargaan dengan tetangga. Dulu, kami memang jarang mengobrol dengan tetangga, bahkan yang berada tepat di samping rumah kami. Mungkin, karena suasana di sana yang sepi. Karenanya, pada waktu itu aku belum terlalu mengenal komputer dan internet, dan memiliki teman yang tidak terlalu banyak. Tapi sejak saat itu, aku bertekad untuk menjadi anak yang berbaur dan tidak sombong sehingga aku bisa memiliki banyak teman.



AKU DAN MASA SMP KU

Menurutku, masa sekolah menengah pertama atau SMP, adalah masa yang paling menyenangkan dan tidak terlupakan. Aku menjalani masa ABG ku di salah satu SMP favorit di Lampung yaitu SMP Negeri 2 Bandar Lampung. Sejak SD aku memang bertekad untuk bisa mendapatkan kelas akselerasi atau kelas percepatan, dimana masa SMP yang seharusnya ditempuh selama tiga tahun menjadi diselesaikan hanya dalam waktu dua tahun, dan aku berhasil mendapatkannya.

Untuk bisa masuk ke kelas akselerasi, aku harus menempuh beberapa tes yang lumayan sulit, yang pertama adalah nilai di rapor yang terkecil haruslaah 72.5, tes selanjutnya adalah tes tertulis, tes IQ, tes bahasa Inggris, dan yang terakhir adalah wawancara. Pada waktu itu adalah kali pertama aku menjalani tes IQ. Untuk bisa masuk ke kelas akselerasi, dibutuhkan IQ lebih dari 135, dan setelah di tes aku mendapat hasil 143! Aku sangat terkejut pada saat itu. IQ terbesar pada saat itu dimiliki oleh Anistia Haq dan Astarica Utami, yaitu 151.

Karena dihuni oleh anak-anak dengan IQ diatas rata-rata, kurasa kelas akselerasi akan menjadi kelas yang suram dan tidak menyenangkan sama sekali. Namun, setelah menjalani beberapa bulan bersama, aku rasa pendapatku waktu itu adalah salah besar. Semua anak-anak akselerasi yang biasa disebut aksel, adalah anak-anak yang memiliki sifat dan kriteria yang tidak jauh berbeda denganku. Oleh karena itu, aku merasa sangat nyaman dan selalu menjalani hari-hari di sekolah dengan penuh senyum dan canda tawa.

Sekolahku yang satu ini memang tidak terlalu besar, beda dengan sekolah-sekolah ku yang sebelumnya. Kira-kira luas total dari spanda adalah seluas lapangan SD Al-Kautsar. Yah, bisa dibayangkan seperti apa. Namun, tempat ini memudahkanku untuk bisa berkeliling sekolah, seperti kalau mau ke kantin, mencari guru, bertemu teman, maupun ke toilet. Bisa dibilang “ada kekurangan dan ada kelebihannya”.

Murid kelas aksel hanya berjumlah dua puluh orang, terdiri dari tujuh orang laki-laki dan tiga belas orang perempuan. Bisa dipastikan kalau anak perempuanlah yang berkuasa. Namun, bukan berarti para anak laki-laki kami tindas dan aniaya. Kami tetap berusaha bersikap adil, saling menghargai, dan menyayangi satu sama lain.

Banyak kenangan tak terlupakan pada masa SMP ini. Dan semua hal kecil yang kulewati pada masa ini adalah merupakan hal yang paling berkesan dalam hidupku. Apabila aku menceritakan semua kenangan yang berkesan itu, mungkin AUTOBIOGRAFI ini akan dipenuhi oleh cerita masa SMP.

Beberapa hal berkesan yang sangat ingin ku tuangkan dalam cerita ini adalah ketika aku dan kawan-kawan sekelas AKSEL pergi untuk OUTBOND. Arti dari outbond itu sendiri adalah semacam belajar di luar sekolah dan biasanya tempat tujuannya adalah luar kota. Tujuan dari kegiatan ini adalah sebagai media ‘refreshing’ setelah jenuh belajar. Karena memang di kelas aksel, kami dipacu untuk belajar dan terus belajar yang terkadang membuatku ingin pergi ke suatu tempat yang jauh dari buku-buku berisi tulisan dan angka-angka membingungkan itu. Dan outbond adalah sarana yang paling tepat.

Selama berada di kelas ini, aku dan teman-teman melaksanakan outbond ke luar kota sebanyak dua kali. Yang pertama adalah pada bulan Maret 2009. Pada waktu tujuan wisata kami adalah Jakarta-Bandung. Tempat-tempat yang kami kunjungi antara lain: Monas, Masjid Istiqlal, Museum Iptek, Cibodas, Cihampelas, dan Dufan. Memang ada beberapa kegiatan yang berkaitan dengan pembelajaran, seperti pada waktu kami berkunjung ke Museum Iptek, namun belajar seperti ini sama sekali tidak terasa bosan tetapi malah sangat menyenangkan. Mungkin karena kami mendapat pengalaman baru di tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya. Terlebih bersama teman dekat dan sahabat sekelas.

Outbond kedua kami adalah pada bulan Desember 2009. Tujuan wisata kami masih tetap sama, tempat-tempat yang kami kunjungi pun tidak jauh berbeda. Yang membedakan outbond pertama dan outbond kedua adalah pesertanya. Kalau outbond pertama pesertanya adalah hanya kawan-kawan sekelasku dan beberapa guru, sedangkan outbond kedua pesertanya adalah anak-anak aksel dan juga anak-anak SBI, sehingga outbond kali ini menjadi lebih ramai, dan tentu saja menjadi lebih menyenangkan.


AKU DAN MASA SEKARANG

Sekarang, aku duduk di bangku SMA. Di kelas X RSBI 1 SMA Negeri 2. Untuk masuk ke sekolah ini dan bahkan ke kelas sepuluh satu bukanlah sesuatu yang datang begitu saja. Bantuan dari Yang Maha Esa tentunya merupakan hal utama yang bisa membuatku menjadi seperti ini. Yang kedua adalah do’a kedua orangtuaku yang selalu mengiringi setiap hembusan napasku. Dan yang terakhir adalah usaha dan kerja keras serta motivasi dari diri sendiri untuk terus maju. Dan Alhamdulillah, aku bisa berhasil sampai ke jenjang yang lebih tinggi ini. Aku berharap semoga semakin kedepan aku akan menjadi semakin baik dan semakin baik lagi. Amin……

Sebelum memasuki SMA, aku dan teman-teman lain yang baru saja lulus SMP itu harus mengikuti Masa Orientasi Siswa atau MOS. Tanggal 1 Juli adalah hari pertama dimana aku duduk di bangku SMA sebagai seorang siswa, dan pada hari itu pula hari pertama MOS. Hari yang melelahkan.

Ada sembilan kelas yang dibagi menjadi kelompok. Nama dari masing-masing kelompok tersebut adalah nama tumbuhan yang berurut berdasarkan abjad, yaitu: Anthurium, kelompokku sendiri; Bougenvil; Chamomile; Dandelion; Edelweis; Foxglove; Geranium; Hawtorn; dan Irish. Semuanya berlomba-lomba untuk menjadi kelompok terbaik.

Kegiatan MOS pada waktu itu menurutku lumayan seru. Ada banyak games seru terutama sewaktu hari terakhir atau penutupan MOS. Pada waktu itu, semua peserta diwajibkan untuk BERJALAN KAKI menuju ‘lembah hijau’ dari SMA Negeri 2. Jarak antara kedua tempat tersebut adalah kurang lebih DELAPAN KILOMETER. Bisa dibayangkan betaapa lelahnya kami waktu itu. Tapi itu memang merupakan kegiatan rutin setiap MOS dan itu WAJIB! Tanpa terkecuali.

Sebelum menjalani MOS, kami harus menjalani PRA MOS. Sebenarnya tidak jauh berbeda dari MOS, baik dari kegiatan maupun tingkat kesenangannya. Masing-masing PRA MOS dan MOS berjalan selama tiga hari. Dengan demikian, total dari semuanya adalah enam hari. Pada ke enam hari itu, kami melewati sepanjang hari dengan berbagai kegiatan, mulai dari yang sangat seru sampai yang sangat membosankan. Anggota kelompokku, Anthurium, merupakan kurang lebih anggota kelasku saat ini.

Selesai dari kegiatan PRA MOS dan MOS, tanggal 12 Juli 2010, adalah hari dimana aku dan teman-teman kelas sepuluh lainnya pertama kali menuntut ilmu di SMA Negeri 2 atau SMANDA. Memang pada minggu pertama kebanyakan diisi dengan perkenalan dan pendekatan diri. Setelah itu, kami mulai belajar dengan normal lagi hingga sekarang.

Semester pertama, menurtuku bukanlah semester yang hasilnya bisa kubanggakan. Yah, tapi aku tetap berrsyukur atas apa yang telah aku capai, walaupun itu mengecewakan. Setidaknya aku sudah berusaha semampuku.

Pada saat menulis postingan ini, aku sedang menjalani semester dua di kelas sepuluh. Aku berusaha untuk bisa bersungguh-sungguh agar mendapat hasil yang membanggakan, atau setidaknya lebih baik dari semester sebelumnya.

Belajar di SMA bisa dibilang berbeda jauh dengan belajar di SMP. Karena memang di SMA inilah mulai ada penjurusan. Guru-gurunya pun berbeda. Di SMA, kami sudah harus mulai belajar mandiri. Setelah lulus dari sini, diharapkan kami bisa menjadi lebih dewasa untuk menjalani hidup kedepannya.

Ada beberapa perubahan yang kurasakan semenjak belajar di SMA. Aku rasa yang berubah adalah semangat belajar dalam diriku yang dulu pernah menggebu-gebu. Kini, aku rasa aku mulai malas belajar dan menyepelekan berbagai tugas dan ulangan. Ini merupakan perubahan kearah negatif, aku harap aku bisa kembali ke arah yang positif, agar bisa mencapai cita-cita dengan baik. Amin…

You know me so well...

Hari itu, Kamis, 19 September 1996, merupakan hari paling bersejarah di kehidupanku. Pada pukul 14.00, di Rumah Sakit Koja, Jakarta Utara, aku dilahirkan ke dunia ini dengan berat 3 kilogram dan panjang sekitar 48 sentimeter dan alhamdulillah, tanpa cacat. Aku terlahir sebagai anak pertama di keluarga kecilku, yang tentunya menjadi anak yang paling ditunggu kehadirannya pada waktu itu. Aku diberi nama Azzren Virgita Pasya pada waktu itu, dan belum pernah berubah hingga saat ini (dan semoga saja untuk selamanya). 

About Me

Foto saya
anak perempuan biasa yang masih galau tentang cita-cita

Pengikut